Disuatu desa kecil hiduplah sebuah keluarga sederhana tapi bahagia yang terdiri dari Ayah, Ibu dan 4 orang anak perempuan. Mereka menjalani kehidupan yang serba sulit didaerah tersebut hal ini dikarenakan letaknya yang terpencil dan jauh dari kota. Jadi, bahan-bahan pokok untuk keprluan sehari-hari sangat sulit didapatkan, orang-oarang didesa itu haruslah pergi ke kota untuk membeli segala ebutuhan yang mereka perlukan demi kelangsungan hidup mereka. Namun, berbeda dengan kehidupan keluarga Pak Badrun yang terlihat sangat bahagia dengan berbagai kesulitan yang dialami didesa tersebut. Mereka sangat mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada keluarganya meskipu harus menanggung beban keempat orang anak perempuan mereka.Itu semua tidak menjadikan pak Badrun buta hati, tetap semangat mencari rejeki halal walaupun itu sulit tetap dilaksakannya sebagai kewajiban seorang kepala rumah tangga. Pak Badrun yang sehari-harinya bekerja sebagai kuli bangunan di kota Bandung yang menyebabkan dia sering pulang pergi dari desanya terkadang pbaru pulang dalam beberapa hari saja. Tapi , untunglah istri Pak Badrun, Bu Inah merupakan penjual kue untuk membantu menambah penghasilan sang suami. Namun, beliau tetap menuruti sang suami sebagai kepala rumah tangga. Hari demi hari , minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun mereka lalui sebagai keluarga yang bahagia. Anak- anak mereka tumbuh semakin dewasa , yang pertama bernama Robiatul Adawiyah, kedua Lailatun Nisa', Ketiga Ni'matus Tsalitsa, dan yang terakhir bernama Siti Nurmala Sari Ningrum. Mereka semua tumbuh normal dan antik-cantik mewarisi kecantikan ibunya.
Suatu hari terjadi sesuatu yang tidak disangka sebelumnya, sang Ayahanda tercinta mengalami kecelakaan ketika dala perjalanan pulang. Ya, dia meninggal ditabrak truk saat ingin menyebrang jalan, Truk yang melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba saja menabrak pak Badrun yang sedang menyebrang jalan raya. Kejadian itu pun membuat istri dan anak-anaknya bersedih karena merasa kehilangan seseorang yang paling berharga. Namun, itu semua tak berlangsung lama karena sang Ibunda selalu menasehati anak-anaknya untuk bersabar , dia selalu berkata bahwa semua ini milik Allah dan sudah pantasnya jika Dia mengambil itu sudah Kehendak-NYA , kita harus dapat menerima kebergian ayah dan kembali menjalani kehidupan sebagai mestinya.Setelah kematian sang Ayah yang menyisakan luka mendalam kepada Istri dan anak-anaknya, Sang ibunda berencana pindah ke sebuah Kota tempat suaminya berasal, dimana disana ada sanak keluarga yang bisa dimintai bantuan mengingat dirinya sekarang seorang janda beranak emapat, meskipun di desa tersebut banyak yang ingin menjadi suaminya, namun Bu Inah menolak semua lamaran yang ditujukan kepadanya , Dia tidak mau menikah lagi karena itulah janji kepada sang suami, janji tulus seorang istri terhadapa suami, bukan tidak memikirkan anak-anaknya atau mengubah takdir akan tetapi ini lebih kepada rasa cintanya terhadap sang Pencipta atas sang suami yang telah diberikan kepadanya , suami yang bertanggung jawab dan taat akan perintah Allah swt.
Kini mereka telah berkemas dan siap menjalani kehidupan baru diluar sana. Berharap mendapatkan kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik dari sekarang ini. Mereka semua naik angkotan kota untuk sampai ke stasiun kota untuk membeli tiket kereta api kerana memang jaraknya yang jauh mengaharuskan mereka lebih memilih Kereta Api karena lebih terjangkau dan lebih efesien.Setelah 2 hari perjalanan akhirnya sampailah mereka di kota Banyuwangi, kota tempat dimana sang Ayah dilahirkan , hampir 20 tahun lebih sang Ibunda tidak pernah mengunjungi rumah sang mertuanya karenakan tidak sempat untuk kembali.Selama ini hanya berhubungan lewat telfon saja. Sang kakek yang menunggu sang menantu sekaligus cucu-cucunya di stasiun tidak sabar menanti kedatangannya. Begitu mereka tiba mereka langsung disambut dengan ramah setelah sekian tidak bertemu kini dapat berkumpul kembali. Disini merupakan awal dari kisah perjalanan hidup mereka dan bagaimana kisah cinta mereka dimulai dari kota ujung Pulau Jawa.
" Hai semua sudah subuh nih, Ayo sholat-sholat !!!! " kata Robiatul Awwaliyah, sang Kakak pertama yang sedang membangunkan adik-adiknya untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah di Masjid. " YA kak ", sahut Nisa ' (sambil bangun dari tidurnya), "Iya kak bentar lagi", sahut Lisa (masih dengan malasnya untuk bangun), "Iya Kak ", sahut si kecil Mala (dengan semangat pergi ke kamar mandi), si bungsu yang imut-imut ini paling aktif dan rajin dibanding kedua kakaknya yang lain.Setelah semuanya telah siap kini sang Ibunda beserta ke-4 anaknya pergi ke Masjid terdekat untuk melaksanakan sholat shubuh berjama'ah.
Mentari mulai terbit menyinari dunia dengan cahayanya yang sangat terang. Kini setelah usai melaksanakan sholat shubuh , Sang Ibunda dan kempat anak perempuanya telah siap menjalani kehidupan baru memulai awal yang indah di kota yang baru mereka kenal. Bu Inah tetap meneruskan usaha jual kuenya untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari dengan dibantu anak-anaknya.
Lia : " Nisa tolong gantian dong mandinya ... Mbak buru-buru ini!"Nisa : "Iya iya nih juga udah selesai."(Keluar dari kamar mandi)
Lia : "Uhhh lama amat sih mandinya??"
Nisa : " Yehh namanya juga cewek pasti lama... udah sana cepetan mandi jangan ngomel melulu btar cepet tua loh" (sambil lari ke kamarnya)
Lia : " HIiihhh dasar awas kamu ya nanti"
Itulah yang namanya adik-kakak , kadang akur kadang berantem. Si Sulung sedang bersiap untuk mencari pekerjaan , ini dilakukannya untuk membantu sang Ibu dan adik2nya. Selain itu juga menabung untuk kuliahnya sendiri karena Ia ingin menggapai cita-citanya sebagai seorang suster(perawat).Kini Lia telah bersiap dan tidak lupa meminta restu dari sang Ibunda tercinta.
Lia :"BU Ibu!!!! Lia mau berangkat nih" (teriaknya)BU Inah : " ya sayang Ibu disini" (sahut sang Ibu)
Lia : "Bu do'ain Lia ya semoga cepet dapet pekerjaanya??? "(dengan berlutut dibawah kaki sang Ibu)
Bu Inah : " ya nak tapi kamu harushati-hati jangan sampai nanti terpengaruh dengan kehidupan kota"
Lia : "Iya bu, Insyaalloh Lia akan selalu ingat nasehat Ibu"
Bu Inah : "Ya sudah sana berangat"
Lia : " Iya bu ... Assalamualaikum"(Sambil mencium tangan sang Ibu)
Ibu Inah : "Wa'alaikumslam"
Sementara itu kedua adiknya Lisa dan Mala yang masing2 duduk di bangku SMP kelas 2 dan SD kelas 4 bersiap pergi ke sekolah mereka yang baru.
Lisa dan Mala : " Ibu Icha ma Mala mau berangkat sekolah ya ??"(sambil mencium tangan sang Ibu)
Ibu : " Iya hati2 ya dijalan!!"
Sedangkan Nisa anak kedua sedang membantu menyiapkan kue yang akan dijual nantinya oleh sang Ibu, Nisa tidak sekolah karena sudah lulus setahun yang lalu. Sebenarnya dia ingin melanjutkan untuk kuliah, tapi belum adanya biaya terpaksa dia sekarang harus menunggu sampai ada biaya untuk kuliah.
Nisa : Bu kuenya dah siap nih,,,, mau ditaruh dimana bu???Ibu : Taruh di meja aja nis ntar diambil.
Nisa : Iya ibu.
Kemudian dengan segera Ibu Inah mempersiapkan kue-kuenya untuk dijual didepan rumahnya.
Bu Inah : Nis tolong bantuin ibu jualan ya sekarang!
Nisa : Iya bu sebentar Nisa lagi ganti baju ini.
Bu Inah : Cepetan ganti bajunya !
Nisa : Iya Bu nih dah selesai kok.
Dengan segera Nisa membantu sang Ibunda berjalan kue. Sementara itu Lia sang Kakak sedang keliling kota berharap menemukan lowongan pekerjaan. Ketika Ia berjalan tiba-tiba seorang laki-laki tidak sengaja menabraknya sehingga Lia terjatuh begitu juga dengan lelaki itu.
Lia : Ya Allah berikan Hamba-MU ini jalan supaya mendapatkan pekerjaanBruuuukkkkkkkk......
Lia : Auuuu .... (terjatuh)
Laki-laki : aduh sorry sorry ya gag sengaja buru-buru ini..
Lia : duhh makanya liat-liat donk kalau jalan sakit tau...
(Tiba-tiba ketika laki-laki itu menatap Lia)
Laki-laki : Cantik banget nih cewek belum pernah aku liat yang kayak gini
Lia : Apa? kamu bilang apa?
Laki-laki : eh sorry ... oh y udah sekali lagi aku minta maa.
Lia : Iya gpp. makanya hati-hati kalau jalan.
Laki-Laki : iya iya.
Kemudian Lia melanjutkan perjalannya kembali mencari lowongan pekerjaan. Gadis cantik berjilbab memakai baju batik putih khas remaja berjalan anggun menyusuri jalanan kota Banyuwangi yang panas berharap menemukan pekerjaan. Akhirnya dia berhenti di salah satu klinik milik seorang dokter bernama Ny. Aisyah Maharani Prawastuti Handayani yang kebetulan sedang membutuhkan sesorang untuk membatunya untuk melayani pasien.
Lia : Assalamu'alaikum
dr. Rani : Wa'alaikumsalam. iya mau cari siapa?
Lia : emmm (dengan gugup)... apa benar ibu dokter sedang mencari seseorang untuk membantu klinik?
dr. Rani : iya benar, kamu mau membantu saya?
Lia : iya dok mau, tapi........
dr. Rani : Tapi apa?
Lia : Saya cuma lulusan SMA ....
dr. Rani : oww itu gag masalah kok, ntar saya ajarin yang penting mau bantu-bantu saya.
Lia : beneran dok?
dr. Rani : Iya , ya udah sini masuk dulu.(Sambil mempersilahkan duduk Lisa di ruang depan)
Lia : Iya makasih (sambil duduk).
dr. Rani : ngomong2 kamu tinggal dimana?
Lia : Tukang Kayu
dr. Rani : ow y kamu asalnya darimana ? kayaknya kamu bukan orang sini ?
Lia : Iya saya dari Bandung
dr. Rani : hmmm.... pantesan kamu itu cantik
Lia : ah Bu dokter bisa aja
dr. Rani : iya beneran , kamu cantik, anggun dan polos. hati2 tuh ntar banyak yang naksir. (sambil tertawa kecil)
Lia : Terima Kasih ( tersipu malu).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar